Menghafal Al-Quran dengan mudah banget
بسم
اللّه الرّحمن الرحيم
Penulis akan
memaparkan tentang langkah-langkah
menghafal Al-Quran, Nah bagi Sobat yang baru memulai
menghafal, tidak mengapa, karena umur bukanlah halangan bagi kita, bahkan di
luar sana banyak dikisahkan para hafidz Al-Quran atau para penghafal Al-Quran yang
berumur 60 tahun bahkan ada yang mencapai 80 tahun, waahhhh,,,, luar biasa kan
sob,
Sobat sekalian, Allah memberikan banyak keutamaan bagi
para penghafal al-Quran, di dunia dan ahirat.
Berikut diantaranya,
Pertama, dia didahulukan
untuk menjadi imam ketika shalat jamaah
Dari Abu Mas’ud radhiyallahu
‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ
اللَّهِ فَإِنْ كَانُوا فِى الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ …
وَلاَ يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِى سُلْطَانِهِ…
Yang paling berhak jadi imam
adalah yang paling banyak hafalan al-Quran-nya. Jika dalam hafalan quran mereka
sama, maka didahulukan yang paling paham dengan sunnah… dan seseorang tidak
boleh menjadi imam di wilayah orang lain. (HR. Ahmad 17526, Muslim 1564, dan
yang lainnya)
Dari Ibnu Umar, beliau
bercerita,
Ketika para muhajirin pertama
tiba di Quba, sebelum kedatangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang
menjadi imam mereka shalat adalah Salim mantan budak Abu Hudzaifah. Dan beliau
adalah orang paling banyak hafalan qurannya. (HR. Bukhari 660)
Kedua,
ketika meninggal, dia didahulukan
Jabir bin Abdillah radhiyallahu
‘anhuma bercerita,
Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam menggabungkan dua jenazah uhud dalam satu kain kafan. Setiap hendak
memakamkan, beliau tanya, “Siapa yang paling banyak hafalan qurannya?”
Kemudian Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam memposisikan yang paling banyak hafalannya di posisi paling
dekat dengan lahat. Lalu beliau bersabda,
أَنَا شَهِيدٌ عَلَى هَؤُلاَءِ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ
Saya akan menjadi saksi bagi
mereka kelak di hari kiamat. (HR. Bukhari 1343 & Turmudzi 1053)
Ketiga, diutamakan untuk menjadi pemimpin jika dia mampu memagangnya
Ketika Umar radhiyallahu ‘anhu menjadi
khalifah, beliau menunjuk Nafi’ bin Abdul Harits untuk menjadi gubernur di
Mekah.
Suatu ketika, Umar bertemu
Nafi’ di daerah Asfan.
“Siapa yang menggantikanmu di
Mekah?” tanya Umar.
“Ibnu Abza.” Jawab Nafi’.
“Siapa Ibnu Abza?” tanya Umar.
“Salah satu mantan budak di
Mekah.” Jawab Nafi’.
“Mantan budak kamu jadikan
sebagai pemimpin?” tanya Umar.
“Dia hafal al-Quran, dan paham
tentang ilmu faraid.” Jawab Nafi’.
Kemudian Umar mengatakan, bahwa Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ
أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ
“Sesungguhnya Allah mengangkat
sebagian kaum berkat kitab ini (al-Quran), dan Allah menghinakan kaum yang
lain, juga karena al-Quran.” (HR. Ahmad 237 & Muslim 1934)
Keempat, kedudukan hafidz al-Quran di surga, sesuai banyaknya ayat yang dia
hafal
Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu
‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ
وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِى الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَكَ
عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا
Ditawarkan kepada penghafal
al-Quran, “Baca dan naiklah ke tingkat berikutnya. Baca dengan tartil
sebagaimana dulu kamu mentartilkan al-Quran ketika di dunia. Karena kedudukanmu
di surga setingkat dengan banyaknya ayat yang kamu hafal.” (HR. Abu Daud
1466, Turmudzi 3162 dan dishahihkan al-Albani)
Kelima, ditemani Malaikat
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha,
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَثَلُ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَهْوَ
حَافِظٌ لَهُ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ ، وَمَثَلُ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ
وَهْوَ يَتَعَاهَدُهُ وَهْوَ عَلَيْهِ شَدِيدٌ ، فَلَهُ أَجْرَانِ
Orang yang membaca dan
menghafal al-Quran, dia bersama para malaikat yang mulia. Sementara orang yang
membaca al-Quran, dia berusaha menghafalnya, dan itu menjadi beban baginya,
maka dia mendapat dua pahala. (HR. Bukhari 4937)
Keenam, di akhirat, akan diberi mahkota dan pakaian kemuliaan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu
‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَجِىءُ الْقُرْآنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
فَيَقُولُ يَا رَبِّ حَلِّهِ فَيُلْبَسُ تَاجَ الْكَرَامَةِ ثُمَّ يَقُولُ يَا
رَبِّ زِدْهُ فَيُلْبَسُ حُلَّةَ الْكَرَامَةِ ثُمَّ يَقُولُ يَا رَبِّ ارْضَ
عَنْهُ فَيَرْضَى عَنْهُ فَيُقَالُ لَهُ اقْرَأْ وَارْقَ وَتُزَادُ بِكُلِّ آيَةٍ
حَسَنَةً
Al-Quran akan datang pada hari
kiamat, lalu dia berkata, “Ya Allah, berikan dia perhiasan.” Lalu Allah berikan
seorang hafidz al-Quran mahkota kemuliaan. Al-Quran meminta lagi, “Ya Allah,
tambahkan untuknya.” Lalu dia diberi pakaian perhiasan kemuliaan. Kemudian dia
minta lagi, “Ya Allah, ridhai dia.” Allah-pun meridhainya. Lalu dikatakan
kepada hafidz quran, “Bacalah dan naiklah, akan ditambahkan untukmu pahala dari
setiap ayat yang kamu baca.(HR. Turmudzi 3164 dan beliau menilai Hasan shahih).
Ketujuh, al-Quran memberi syafaat baginya
Dari Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu ‘anhu,
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ
الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ
Rajinlah membaca al-Quran,
karena dia akan menjadi syafaat bagi penghafalnya di hari kiamat. (HR.
Muslim 1910).
Kedelapan, orang tuanya akan diberi mahkota cahaya kelak di akhirat
Dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu,
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
من قرأ القرآن وتعلَّم وعمل به أُلبس والداه
يوم القيامة تاجاً من نور ضوؤه مثل ضوء الشمس ، ويكسى والداه حلتين لا تقوم لهما
الدنيا فيقولان : بم كسينا هذا ؟ فيقال : بأخذ ولدكما القرآن
Siapa yang menghafal al-Quran,
mengkajinya dan mengamalkannya, maka Allah akan memberikan mahkota bagi kedua
orang tuanya dari cahaya yang terangnya seperti matahari. Dan kedua orang
tuanya akan diberi dua pakaian yang tidak bisa dinilai dengan dunia. Kemudian
kedua orang tuanya bertanya, “Mengapa saya sampai diberi pakaian semacam ini?”
Lalu disampaikan kepadanya, “Disebabkan anakmu telah mengamalkan al-Quran.” (HR.
Hakim 1/756 dan dihasankan al-Abani).
Dalam riwayat lain, dari Abu
Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,
يجيء القرآن يوم القيامة كالرجل الشاحب يقول
لصاحبه : هل تعرفني ؟ أنا الذي كنتُ أُسهر ليلك وأظمئ هواجرك… ويوضع على رأسه تاج
الوقار ، ويُكسى والداه حلَّتين لا تقوم لهما الدنيا وما فيها ، فيقولان : يا رب
أنى لنا هذا ؟ فيقال لهما : بتعليم ولدكما القرآن
Al-Quran akan datang pada hari
kiamat seperti orang yang wajahnya cerah. Lalu bertanya kepada penghafalnya,
“Kamu kenal saya? Sayalah membuat kamu bergadangan tidak tidur di malam hari,
yang membuat kamu kehausan di siang harimu… ” kemudian diletakkan mahkota
kehormatan di kepalanya, dan kedua orang tuanya diberi pakaian indah yang tidak
bisa dinilai dengan dunia seisinya. Lalu orang tuanya menanyakan, “Ya Allah,
dari mana kami bisa diberi pakaian seperti ini?” kemudian dijawab, “Karena
anakmu belajar al-Quran.” (HR. Thabrani dalam al-Ausath 6/51, dan
dishahihkan al-Albani).
Allahu a’lam.
Nah sob, sekarang kalian sudah
tau keutaman nya, lalu apa yang ingin kalian lakukan sekarang???
Mau menghafal ?? wah luar biasa, saya akan menyajikan
beberapa langkah dalam menghafal Al-Quran
Berkata Imam Nawawi : “ Hal Pertama ( yang harus
diperhatikan oleh seorang penuntut ilmu ) adalah menghafal Al Quran, karena dia
adalah ilmu yang terpenting, bahkan para ulama salaf tidak akan mengajarkan
hadits dan fiqh kecuali bagi siapa yang telah hafal Al Quran. Kalau sudah hafal
Al Quran jangan sekali- kali menyibukan diri dengan hadits dan fikih atau
materi lainnya, karena akan menyebabkan hilangnya sebagian atau bahkan seluruh
hafalan Al Quran. “()
( ) Imam Nawawi, Al Majmu’,( Beirut, Dar Al Fikri, 1996 )
Cet. Pertama, Juz : I, hal : 66
Di bawah ini beberapa langkah efektif untuk menghafal Al
Qur’an yang disebutkan para ulama, diantaranya adalah sebagai berikut :
Langkah Pertama : Pertama kali seseorang yang ingin
menghafal Al Qur’am hendaknya mengikhlaskan niatnya hanya karena Allah saja.
Dengan niat ikhlas, maka Allah akan membantu Sobat dan menjauhkan Sobat dari
rasa malas dan bosan. Suatu pekerjaan yang diniatkan ikhlas, biasanya akan
terus dan tidak berhenti. Berbeda kalau niatnya hanya untuk mengejar materi
ujian atau hanya ingin ikut perlombaan, atau karena ingin mendapat pujian atau
ingin dapet suami yang punya hafalan jg....wahhh,,, ga boleh y
Langkah Kedua : Hendaknya setelah itu, ia melakukan
Sholat Hajat dengan memohon kepada Allah agar dimudahkan di dalam menghafal Al
Qur’an. Waktu sholat hajat ini tidak ditentukan
dan doa’anyapun diserahkan kepada masing-masing pribadi. Hal ini sebagaimana
yang diriwayat Hudzaifah ra, yang berkata :
كان
رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا حزبه أمر صلى
“ Bahwasanya Rosulullah saw jika
ditimpa suatu masalah beliau langsung mengerjakan sholat. “()
Adapun riwayat yang menyebutkan doa
tertentu dalam sholat hajat adalah riwayat lemah, bahkan riwayat yang mungkar
dan tidak bisa dijadikan sandaran. ()
Begitu juga hadist yang diriwayatkan
Ibnu Abbas ra yang menjelaskan bahwa Rosulullah saw mengajarkan Ali bin Abu
Thalib sholat khusus untuk meghafal Al Qur’an yang terdiri dari empat rekaat ,
rekaat pertama membaca Al Fatihah dan surat Yasin, rekaat kedua membaca surat
Al Fatihah dan Ad Dukhan, rekaat ketiga membaca surat Al Fatihah dan Sajdah, dan
rekaat keempat membaca surat Al Fatihah dan Al Mulk, itu adalah hadist maudhu’
dan tidak boleh diamalkan. Sebagian ulama lain mengatakan bahwa hadist tersebut
adalah hadits dhoif . ()
Langkah Ketiga : Memperbanyak do’a
untuk menghafal Al Qur’an. ()
Do’a ini memang tidak terdapat dalam
hadits, akan tetapi seorang muslim bisa berdo’a menurut kemampuan dan bahasanya
masing-masing. Mungkin anda bisa berdo’a seperti ini :
اللهم
وفقني لحفظ القرآن الكريم ورزقني تلاوته أناء الليل وأطراف النهار على الوجه الذي
يرضيك عنا يا أرحم الراحمين .
“ Ya Allah berikanlah kepada saya
taufik untuk bisa menghafal Al Qur’an, dan berilah saya kekuatan untuk terus
membacanya siang dan malam sesuai dengan ridhal dan tuntunan-Mu , wahai Yang
Maha Pengasih “.
Langkah Keempat : Menentukan salah satu
metode untuk menghafal Al Qur’an. Sebenarnya banyak sekali metode yang bisa
digunakan untuk menghafal Al Qur’an, Masing-masing orang akan mengambil metode
yang sesuai dengan dirinya. Akan tetapi di sini hanya akan disebutkan dua
metode yang sering dipakai oleh sebagian kalangan, dan terbukti sangat efektif
Metode
Pertama
: Menghafal per satu halaman ( menggunakan Mushaf Madinah ). Kita membaca satu
lembar yang mau kita hafal sebanyak tiga atau lima kali secara benar, setelah
itu kita baru mulai menghafalnya. Setelah hafal satu lembar, baru kita pindah
kepada lembaran berikutnya dengan cara yang sama. Dan jangan sampai pindah ke
halaman berikutnya kecuali telah mengulangi halaman- halaman yang sudah kita
hafal sebelumnya. Sebagai contoh : jika kita sudah menghafal satu lembar
kemudian kita lanjutkan pada lembar ke-dua, maka sebelum menghafal halaman
ke-tiga, kita harus mengulangi dua halaman sebelumnya. Kemudian sebelum
menghafal halaman ke-empat, kita harus mengulangi tiga halaman yang sudah kita
hafal. Kemudian sebelum meghafal halaman ke-lima, kita harus mengulangi empat
halaman yang sudah kita hafal. Jadi, tiap hari kita mengulangi lima halaman :
satu yang baru, empat yang lama. Jika kita ingin menghafal halaman ke-enam,
maka kita harus mengulangi dulu empat halaman sebelumnya, yaitu halaman dua,
tiga, empat dan lima. Untuk halaman satu kita tinggal dulu, karena sudah
terulangi lima kali. Jika kita ingin menghafal halaman ke-tujuh, maka kita
harus mengulangi dulu empat halaman sebelumnya, yaitu halaman tiga, empat,
lima, dan enam. Untuk halaman satu dan dua kita tinggal dulu, karena sudah
terulangi lima kali, dan begitu seterusnya.
Perlu diperhatikan juga, setiap kita
menghafal satu halaman sebaiknya ditambah satu ayat di halaman berikutnya, agar
kita bisa menyambungkan hafalan antara satu halaman dengan halaman berikutnya.
Metode
Kedua
: Menghafal per- ayat , yaitu membaca satu ayat yang mau kita hafal tiga atau
lima kali bahkan sampai dua
puluh kali secara benar, setelah itu, kita baru menghafal ayat
tersebut. Setelah selesai, kita pindah ke ayat berikutnya dengan cara yang
sama, dan begiu seterusnya sampai satu halaman. Akan tetapi sebelum pindah ke
ayat berikutnya kita harus mengulangi apa yang sudah kita hafal dari ayat
sebelumnya. Setelah satu halaman, maka kita mengulanginya sebagaimana yang
telah diterangkan pada metode pertama . ()
Untuk memudahkan hafalan juga, kita
bisa membagi Al Qur’an menjadi tujuh hizb ( bagian ) :
1.
Surat Al Baqarah
sampai Surat An Nisa’
2.
Surat Al Maidah
sampai Surat At Taubah
3.
Surat Yunus sampai
Surat An Nahl
4.
Surat Al Isra’ sampai
Al Furqan
5.
Surat As Syuara’
sampai Surat Yasin
6.
Surat As Shoffat
sampai Surat Al Hujurat
7.
Surat Qaf sampai
Surat An Nas
Boleh juga dimulai dari bagian terakhir
yaitu dari Surat Qaf sampai Surat An Nas, kemudian masuk pada bagian ke-enam
dan seterusnya.
Langkah Kelima : Memperbaiki Bacaan.
Sebelum mulai menghafal, hendaknya kita
memperbaiki bacaan Al Qur’an agar sesuai dengan tajwid. Perbaikan bacaan
meliputi beberapa hal, diantaranya :
a/ Memperbaiki Makhroj Huruf. Seperti
huruf ( dzal) jangan dibaca ( zal ), atau huruf ( tsa) jangan dibaca ( sa’ )
sebagaimana contoh di bawah ini :
ثم
—— > سم / الذين —- > الزين
Langkah Keenam : Untuk menunjang agar
bacaan baik, hendaknya hafalan yang ada, kita setorkan kepada seorang yang memiliki bacaan yang baik dan benar
agar orang tersebut membenarkan jika bacaan kita salah. Kadang, ketika
menghafal sendiri sering terjadi kesalahan dalam bacaan kita, karena kita tidak
pernah menyetorkan hafalan kita kepada orang lain, sehingga kesalahan itu terus
terbawa dalam hafalan kita, dan kita menghafalnya dengan bacaan tersebut
bertahun-tahun lamanya tanpa mengetahui bahwa itu salah, sampai orang lain yang
mendengarkannya akhirnya memberitahukan kesalahan tersebut.
Langkah Ketujuh : Faktor lain agar
bacaan kita baik dan tidak salah, adalah memperbanyak untuk mendengar
kaset-kaset bacaan Al Qur’an murattal dari syekh yang mapan dalam bacaannya.
Kalu bisa, tidak hanya sekedar mendengar sambil mengerjakan pekerjaan lain,
akan tetapi mendengar dengan serius dan secara teratur. Untuk diketahui,
akhir-akhir ini - alhamdulillah - banyak telivisi-telelivisi parabola yang
menyiarkan secara langsung pelajaran Al Qur’an murattal dari seorang syekh yang
mapan, diantaranya adalah acara di televisi Iqra’ . Tiap pekan terdapat siaran
langsung pelajaran Al Qur’an yang dipandu oleh Syekh Aiman Ruysdi seorang qari’
yang mapan dan masyhur, kitapun bisa menyetor bacaan kita kepada syekh ini
lewat telpun. Rekaman dari acara tersebut disiarkan ulang setiap pagi. Selain
itu, terdapat juga di channel ” Al Majd “, dan channel- channel televisi
lainnya. Acara-acara tersebut banyak membantu kita di dalam memperbaiki bacaan
Al Qur’an.
Langkah Kedelapan : Untuk menguatkan
hafalan, hendaknya kita mengulangi halaman yang sudah kita hafal sesering
mungkin, jangan sampai kita sudah merasa hafal satu halaman, kemudian kita
tinggal hafalan tersebut dalam tempo yang lama, hal ini akan menyebabkan
hilangnya hafalan tersebut. Diriwayatkan bahwa Imam Ibnu Abi Hatim, seorang
ahli hadits yang hafalannya sangat terkenal dengan kuatnya hafalannya. Pada
suatu ketika, ia menghafal sebuah buku dan diulanginya berkali-kali, mungkin
sampai tujuh puluh kali. Kebetulan dalam rumah itu ada nenek tua. Karena
seringnya dia mengulang-ulang hafalannya, sampai nenek tersebut bosan mendengarnya,
kemudian nenek tersebut memanggil Ibnu Abi Hatim dan bertanya kepadanya : Wahai
anak, apa sih yang sedang engkau kerjakan ? “ Saya sedang menghafal sebuah buku
“ , jawabnya. Berkata nenek tersebut : “ Nggak usah seperti itu, saya saja
sudah hafal buku tersebut hanya dengan mendengar hafalanmu.” . “ Kalau begitu,
saya ingin mendengar hafalanmu “ kata Ibnu Abi Hatim, lalu nenek tersebut mulai
mengeluarkan hafalannya. Setelah kejadian itu berlalu setahun lamanya, Ibnu Abi
Hatim datang kembali kepada nenek tersebut dan meminta agar nenek tersebut
menngulangi hafalan yang sudah dihafalnya setahun yang lalu, ternyata nenek
tersebut sudah tidak hafal sama sekali tentang buku tersebut, dan sebaliknya
Ibnu Abi Hatim, tidak ada satupun hafalannya yang lupa. () Cerita ini
menunjukkan bahwa mengulang-ulang hafalan sangatlah penting. Barangkali kalau
sekedar menghafal banyak orang yang bisa melakukannya dengan cepat, sebagaimana
nenek tadi. Bahkan kita sering mendengar seseorang bisa menghafal Al Qur’an
dalam hitungan minggu atau hitungan bulan, dan hal itu tidak terlalu sulit,
akan tetapi yang sulit adalah menjaga hafalan dan mengulanginya secara kontinu.
Langkah Kesembilan : Faktor lain yang
menguatkan hafalan adalah menggunakan seluruh panca indra yang kita miliki.
Maksudnya kita menghafal bukan hanya dengan mata saja, akan tetapi dibarengi
dengan membacanya dengan mulut kita, dan kalau perlu kita lanjutkan dengan
menulisnya ke dalam buku atau papan tulis. Ini sangat membantu hafalan
seseorang. Ada beberapa teman dari Marokko yang menceritakan bahwa cara
menghafal Al Qur’an yang diterapkan di sebagian daerah di Marokko adalah dengan
menuliskan hafalannya di atas papan kecil yang dipegang oleh masing-masing
murid, setelah mereka bisa menghafalnya di luar kepala, baru tulisan tersebut
dicuci dengan air.
Langkah Kesepuluh : Menghafal kepada
seorang guru.
Menghafal Al Qur’an kepada seorang guru
yang ahli dan mapan dalam Al Qur’an adalah sangat diperlukan agar seseorang
bisa menghafal dengan baik dan benar. Rosulullah saw sendiri menghafal Al
Qur’an dengan Jibril as, dan mengulanginya pada bulan Ramadlan sampai dua kali
katam.
Langkah Kesebelas : Menggunakan satu
jenis mushaf Al Qur’an dan jangan sekali-kali pindah dari satu jenis mushaf
kepada yang lainnya. () Karena mata kita akan ikut menghafal apa yang kita
lihat. Jika kita melihat satu ayat lebih dari satu posisi, jelas itu akan
mengaburkan hafalan kita. Masalah ini, sudah dihimbau oleh salah seorang
penyair dalam tulisannya :
العين
تحفظ قبل الأذن ما تبصر فاختر لنفسك مصحف عمرك الباقي .
“ Mata akan menghafal apa yang
dilihatnya- sebelum telinga- , maka pilihlah satu mushaf untuk anda selama
hidupmu. “()
Yang dimaksud jenis mushaf di sini
adalah model penulisan mushaf. Di sana ada beberapa model penulisan mushaf,
diantaranya adalah : Mushaf Madinah atau terkenal dengan Al Qur’an pojok, satu
juz dari mushaf ini terdiri dari 10 lembar, 20 halaman, 8 hizb, dan setiap
halaman dimulai dengan ayat baru. Mushaf Madinah ( Mushaf Pojok ) ini paling
banyak dipakai oleh para pengahafal Al Qur’an, banyak dibagi-bagikan oleh
pemerintah Saudi kepada para jama’ah haji. Cetakan-cetakan Al Qur’an sekarang
merujuk kepada model mushaf seperti ini. Dan bentuk mushaf seperti ini paling
baik untuk dipakai menghafal Al Qur’an.
Disana ada model lain, seperti mushaf
Al Qur’an yang dipakai oleh sebagain orang Mesir, ada juga mushaf yang dipakai
oleh sebagain orang Pakistan dan India, bahkan ada model mushaf yang dipakai
oleh sebagian pondok pesantren tahfidh Al Qur’an di Indonesia yang dicetak oleh
Manar Qudus , Demak.
Langkah Keduabelas : Pilihlah waktu
yang tepat untuk menghafal, dan ini tergantung kepada pribadi masing-masing.
Akan tetapi dalam suatu hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra,
disebutkan bahwasanya Rosulullah saw bersabda :
إن
الدين يسر ، ولن يشاد الدين أحد إلا غلبه ، فسددوا وقاربوا و أبشروا ، واستعينوا
بالغدوة والروحة وشئ من الدلجة
“ Sesungguhnya agama ini mudah, dan
tidak ada yang mempersulit diri dalam agama ini kecuali dia akan capai sendiri,
makanya amalkan agama ini dengan benar, pelan-pelan, dan berilah kabar gembira,
serta gunakan waktu pagi, siang dan malam ( untuk mengerjakannya ) “ ( HR
Bukhari )
Dalam hadist di atas disebutkan waktu
pagi ,siang dan malam, artinya kita bisa menggunakan waktu-waktu tersebut untuk
menghafal Al Qur’an. Sebagai contoh : di pagi hari, sehabis sholat subuh sampai
terbitnya matahari, bisa kita gunakan untuk menghafal Al Qur’an atau untuk
mengulangi hafalan tersebut, waktu siang siang, habis sholat dluhur, waktu sore
habis sholat Ashar, waktu malam habis sholat Isya’ atau ketika melakukan sholat
tahajud dan seterusnya.
Langkah Ketigabelas : Salah satu waktu
yang sangat tepat untuk melakukan pengulangan hafalan adalah waktu ketika
sedang mengerjakan sholat –sholat sunnah, baik di masjid maupun di rumah. Hal
ini dikarenakan waktu sholat, seseorang sedang konsentrasi menghadap Allah, dan
konsentrasi inilah yang membantu kita dalam mengulangi hafalan. Berbeda ketika
di luar sholat, seseorang cenderung untuk bosan berada dalam satu posisi, ia
ingin selalu bergerak, kadang matanya menengok kanan atau kiri, atau kepalanya
akan menengok ketika ada sesuatu yang menarik, atau bahkan kawannya akan
menghampirinya dan mengajaknya ngobrol . Berbeda kalau seseorang sedang sholat,
kawannya yang punya kepentingan kepadanya-pun terpaksa harus menunggu
selesainya sholat dan tidak berani mendekatinya, dan begitu seterusnya.
Langkah Ketigabelas : Salah satu faktor
yang mendukung hafalan adalah memperhatikan ayat-ayat yang serupa ( mutasyabih
) . Biasanya seseorang yang tidak memperhatikan ayat-ayat yang serupa (
mutasyabih ), hafalannya akan tumpang tindih antara satu dengan lainnya. Ayat
yang ada di juz lima umpamanya akan terbawa ke juz sepuluh. Ayat yang mestinya
ada di surat Surat Al-Maidah akan terbawa ke surat Al-Baqarah, dan begitu
seterusnya. Di bawah ini ada beberapa contoh ayat-ayat serupa ( mutasyabihah )
yang seseorang sering melakukan kesalahan ketika menghafalnya :
- ﴿ وَمَا أُهِلَّ
بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ ﴾ البقرة 173 < ———— > ﴿
وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ ) المائدة 3 ، والأنعام 145، و النحل 115
- ( ذلِكَ
بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّين
بغير الحق ) البقرة : 61
( إن الذين يكفرون بآيات اللَّهِ
وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّين بغير حق ) آل عمران : 21
( ذلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ
بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ الأنبياء بغير حق ) آل عمرن : 112
Untuk melihat ayat –ayat mutasyabihat
seperti ini secara lebih lengkap bisa dirujuk buku – buku berikut :
- Duurat At Tanzil wa Ghurrat At Ta’wil fi Bayan Al Ayat
Al Mutasyabihat min Kitabillahi Al Aziz , karya Al Khatib Al Kafi.
- Asrar At Tikrar fi Al Qur’an, karya : Mahmud bin Hamzah
Al Kirmany.
- Mutasyabihat Al Qur’an, Abul Husain bin Al Munady
- ‘Aunu Ar Rahman fi Hifdhi Al Qur’an, karya Abu Dzar Al
Qalamuni
Langkah Kelimabelas : Setelah hafal Al
Qur’an, jangan sampai ditinggal begitu saja. Banyak dari teman-teman yang sudah
menamatkan Al Qur’an di salah satu pondok pesantren, setelah keluar dan sibuk
dengan studinya yang lebih tinggi, atau setelah menikah atau sudah sibuk pada
suatu pekerjaan, dia tidak lagi mempunyai program untuk menjaga hafalannya
kembali, sehingga Al-Qur’an yang sudah dihafalnya beberapa tahun di pesantren
akhirnya hanya tinggal kenangan saja. Setelah ditinggal lama dan sibuk dengan
urusannya, ia merasa berat untuk mengembalikan hafalannya lagi. Fenomena
seperti sangat banyak terjadi dan hal itu sangat disayangkan sekali. Boleh
jadi, ia mendapatkan ijazah sebagai seorang yang bergelar ” hafidh ” atau ”
hafidhah “, akan tetapi jika ditanya tentang hafalan Al- Qur’an, maka
jawabannya adalah nihil.
Yang paling penting dalam hal ini
bukanlah menghafal, karena banyak orang bisa menghafal Al Qur’an dalam waktu
yang sangat singkat, akan tetapi yang paling penting adalah bagaimana kita
menjaga hafalan tersebut agar tetap terus ada dalam dada kita. Di sinilah letak
perbedaan antara orang yang benar-benar istiqamah dengan orang yang hanya rajin
pada awalnya saja. Karena, untuk menjaga hafalan Al Qur’an diperlukan kemauan
yang kuat dan istiqamah yang tinggi. Dia harus meluangkan waktunya setiap hari
untuk mengulangi hafalannya. Banyak cara untuk menjaga hafalan Al Qur’an,
masing-masing tentunya memilih yang terbaik untuknya. Diantara cara untuk
menjaga hafalan Al Qur’an adalah sebagai berikut :
- Mengulangi hafalan menurut waktu sholat lima waktu.
Seorang muslim tentunya tidak pernah meninggalkan sholat lima waktu, hal
ini hendaknya dimanfaatkan untuk mengulangi hafalannya. Agar terasa lebih
ringan, hendaknya setiap sholat dibagi menjadi dua bagian, sebelum sholat
dan sesudahnya. Sebelum sholat umpamanya :i sebelum adzan, dan waktu
antara adzan dan iqamah. Apabila dia termasuk orang yang rajin ke masjid,
sebaiknya pergi ke masjid sebelum adzan agar waktu untuk mengulangi
hafalannya lebih panjang. Kemudian setelah sholat, yaitu setelah membaca
dzikir ba’da sholat atau dzikir pagi pada sholat shubuh dan setelah dzkir
sore setelah sholat Ashar. Seandainya saja, ia mampu mengulangi hafalannya
sebelum sholat sebanyak seperempat juz dan sesudah sholat seperempat juz
juga, maka dalam satu hari dia bisa mengulangi hafalannya sebanyak dua juz
setengah. Kalau bisa istiqamah seperti ini, maka dia bisa menghatamkan
hafalannya setiap dua belas hari, tanpa menyita waktunya sama sekali.
Kalau dia bisa menyempurnakan setengah juz setiap hari pada sholat malam
atau sholat-sholat sunnah lainnya, berarti dia bisa menyelesaikan setiap
harinya tiga juz, dan bisa menghatamkan Al Qur’an pada setiap sepuluh hari
sekali. Banyak para ulama dahulu yang menghatamkan hafalannya setiap
sepuluh hari sekali.
- Ada sebagian orang yang mengulangi hafalannya pada
malam saja, yaitu ketika ia mengerjakan sholat tahajud. Biasanya dia
menghabiskan sholat tahajudnya selama dua jam. Cuma kita tidak tahu,
selama dua jam itu berapa juz yang ia dapatkan. Menurut ukuran umum, kalau
hafalannya lancar, biasanya ia bisa menyelesaikan satu juz dalam waktu
setengah jam. Berarti, selama dua jam dia bisa menyelesaikan dua sampai
tiga juz dengan dikurangi waktu sujud dan ruku.
- Ada juga sebagian teman yang mengulangi hafalannya
dengan cara masuk dalam halaqah para penghafal Al Qur’an. Kalau halaqah
tersebut berkumpul setiap tiga hari sekali, dan setiap peserta wajib
menyetor hafalannya kepada temannya lima juz berarti masing-masing dari
peserta mampu menghatamkan Al Qur’an setiap lima belas hari sekali. Inipun
hanya bisa terlaksana jika masig-masing dari peserta mengulangi hafalannya
sendiri-sendiri dahulu.
( ) Hadist riwayat Abu Daud ( no : 1319 ),
dishohihkan oleh Syekh Al Bani dalam Shohih Sunan Abu Daud , juz I, hal. 361
( ) Untuk mengetahui secara lebih
lengkap tentang derajat hadits tersebut bisa dirujuk : Abu Umar Abdullah bin
Muhammad Al Hamadi, Al Asinatu Al Musyri’atu fi At Tahdhir min As Solawat Al
Mubtadi’ah, ( Kairo, Maktabah At Tabi’in, 2002 ) Cet Pertama, hal. 97 -120
( ) Ibid, hal.21-39
( ) Abu Abdur Rahman Al Baz Taufiq,
Ashal Nidham Li Hifdhi Al Qur’an, ( Kairo, Maktabah Al Islamiyah, 2002 ) Cet.
Ke-Tiga, Hal. 13
( ) Ali bin Umar Badhdah, Kaifa Tahfadu
Al Qur’an, hal. 6
( ) Ibid. hal 12
( ) Abu Dzar Al Qalamuni, ‘Aunu Ar
Rahman fi Hifdhi Al Qur’an, ( Kairo, Dar Ibnu Al Haitsam, 1998 ) Cet Pertama,
hal.16
( ) Abu Abdur Rahman Al Baz Taufiq, Op.
Cit, Hal. 15
BY : NON TYAR
BY NON TYAR